Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

April 08, 2009

Menggapai Cinta Ibu

“Bu, ada teman yang mau datang bersilaturahim dengan ibu. Kapan bu ada waktu” Siang itu kuhampiri ibu yang sedang duduk menonton televisi. Ibu tak bereaksi apapun, seakan-akan tak mendengar dan merasakan kehadiranku.

“Bu, teman itu bermaksud datang melamar. Bagaimana kalau…”

“Ibu tak peduli dengan semua urusanmu. Kalau ada apa-apa hubungi saja kakek, biar kakek yang urus semuanya!” Dengan ketus ibu memotong pembicaraanku.

Tanganku yang baru saja kuletakkan di atas tangannya ditepiskannya dengan kasar.

“Tapi ibu kan orang tuaku satu-satunya, mau ngak mau ibu harus tahu urusanku ini. Lagi pula….”

Tak kulanjutkan ucapanku karena ibu telah beranjak pergi Begitu saja. Meski sudah kuduga ibu akan bersikap seperti ini, tapi tak urung air mataku jatuh juga.

Sore itu aku ke rumah kakek, bapaknya ibu. Selama ini beliaulah yang menopang ekonomi keluarga kami sejak bapak meninggal tujuh tahun lalu.

Mulanya kakek menolak. Alasannya aku baru saja menyelesaikan studiku dan belum mengamalkan ilmu yang kuperoleh selama empat tahun.

Malah kakek menawariku pekerjaan. Menjadi front officer di sebuah hotel berbintang milik seorang pengusaha yang kini menjadi orang nomor dua di republik ini. Kakek memang dekat dengan pejabat dan orang penting di daerah kami. Jadi, untuk urusan seperti ini bukanlah hal yang sulit baginya.

“Di sana kamu boleh kok berkerudung. Saya sudah bicara dengan Pak JK dan katanya hal itu bukan masalah,” bujuk kakek yang tahu kalau selama ini aku menolak pekerjaan yang mempersoalkan kerudungku.

Tawaran kakek itu kutolak dengan hati-hati. Sebelumnya aku ditawari teman kerja di bank konvensional. Sama seperti kakek, katanya aku boleh berkerudung. Tapi aku tahu, kalau pun dibolehkan pasti yang dimaksud bukan kerudung selebar yang kupakai sekarang. Apalagi saat ini diam-diam aku telah ber-niqab (bercadar-red) meski tak seorang pun di keluargaku yang tahu. Selain itu aku juga sadar, akan banyak pelanggaran syariat yang harus kulakukan jika menerima tawaran itu.

Tapi terus terang sempat terlintas juga kenikmatan yang akan kuperoleh bila mengiyakan tawaran-tawaran tersebut. Dengan materi yang kudapat aku bisa membantu meringankan beban kakek dan ibu. Apalagi aku masih punya delapan adik yang semuanya bersekolah, dan tentu saja masih sangat membutuhkan banyak biaya.

Dan yang paling penting, aku bisa kembali mendapatkan cinta ibu. Cinta yang hilang sejak aku memutuskan hijrah, setahun yang lalu. Ibu yang selama ini sangat hangat dan mencintaiku, sehingga sering membuat adik-adikku iri, telah berubah dingin dan sangat membenciku.

Mengingat semua itu air mataku kembali menetes. Ya Allah, hanya Engkau yang tahu betapa inginnya aku membahagiakan orang-orang yang sangat kucintai ini. Orang-orang yang paling berjasa dalam hidupku. Orang-orang yang memang sudah sepantasnya mendapatkan baktiku.

Tapi ya Allah, aku tak sanggup kalau harus kembali berkubang maksiat untuk memperoleh semua itu. Rasanya sudah cukup semua kemaksiatan yang kulakukan selama ini. Aku tak ingin kembali sesat setelah Engkau tunjukkan jalan-Mu yang lurus. Ya Allah, hanya Engkaulah tempatku mengadu dan bersandar.

“Sudahlah, kalau memang jodohnya biarkan saja. Daripada nanti jadi perawan tua, toh kita juga yang repot!” Nenek yang selalu mendukungku angkat bicara. Saat ini hanya beliaulah yang tidak berubah sikap. Malah diam-diam beliau sering memberiku uang, karena tahu kakek telah menghentikan bantuannya padaku.

Alhamdulillah, akhirnya kakek mau mengalah setelah sempat berdebat panjang dengan nenek. Tapi kemudian aku terhenyak ketika kakek menetapkan sejumlah uang yang menurutku cukup besar. Ya Allah, kalau memang ikhwan ini jodohku dan ia baik bagi diri dan agamaku, maka permudahkanlah urusan ini.

**

Pagi itu, tibalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Cuaca yang sejak malam bersahabat, mendadak mendung dan gelap. Sepertinya sebentar lagi turun hujan deras. Tapi gejala alam biasa itu rupanya dimaknai lain oleh sebagian keluargaku. Entah siapa yang memulai, beberapa orang kemudian berinisiatif membuang cabe ke atas genting.

“Biar hujannya tidak jadi turun!” begitu katanya ketika ditanyakan motifnya. Tapi yang bikin ksal ialah ketika salah seorang tante meminta (maaf) pakaian dalamku untuk dibuang ke genting. Katanya lebih ampuh dari cabe. Tentu saja aku menolak sambil menjelaskan kalau tak ada hubungannya antara pakaian dalam atau cabe dengan hujan.

Akhirnya, semua mengomel dengan kekerasanku. Apalagi tak lama kemudian hujan turun deras dibareng dengan angin kencang. Kami sampai sangat khawatir tenda-tenda akan roboh karenanya.

“Percuma, karena sudah terlambat membuangnya. Mestinya sebelum hujan gerimisnya turun.” Lamat-lamat kudengar suara tante menjawab pertanyan adikku.

Aku merasa curiga. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu. Buru-buru kulongokkan kepalaku di jendela kamar. Di atas genting, kulihat beberapa biji cabe dan tiga lembar pakaian dalamku yang berhasil diambilnya tanpa sepengetahuanku, padahal sejak tante meminta aku telah mengunci lemari pakaianku.

Alhamdulillah hujan deras dan angin kencang berhenti kurang lebih setengah jam sebelum jadwal akad nkah. Di acara ini yang paling banyak berperan adalah teman-teman ikhwan dan akhwat LDK kampus. Selain karena ibu bersikeras tak ingin ikut campur, juga karena untuk pertama kalinya dalam keluargaku diadakan walimahan yang memisahkan antara mempelai wanita dan pria. Jadi, mereka belum tahu tata caranya.

Ada baiknya juga sikap keluar yang menyerahkan jalannya acara sepenuhnya padaku, meski suara suara sumbang tetap terdengar. Alhamdulillah, di walimahan ini tak ada musik maupun foto-foto. Semuanya berjalan sederhana dan sesuai syariat seperti keinginan kami.

Hampir sejam kemudian rombongan mempelai pria datang. Akad nikah pun segera dilaksanakan. Setelah itu kami pun dipertemukan. Hanya sebentar, karena keluarga suamiku memaksa masuk untuk melihatku. Suamiku hanya sempat meletakkan tangannya di dahiku sembari berdoa dan setelah itu bergegas keluar diikuti yang lainnya.

Aku pun bergerak keluar kamar. Dengan dituntun tante dan seorang akhwat aku menuju ke barisan orang tua untuk sungkeman. Ketika giliran ibu, beliau mendorong tubuhku sehingga aku hampir jatuh dibuatnya.

Aku menangis diperlakukan seperti itu. Kucoba mendekati ibu lagi, tapi teman yang melihat gelagat tidak baik segera menarikku sembari membisikkan agar aku sabar.

Aku pun dituntun untuk langsung menuju pelaminan. Dengan menahan air mata dan rasa sesak di dada, kupaksakan kakiku melangkah. Sikap ibu berlanjut dengan penolakannya menemuiku di pelaminan. Alhasil aku hanya berdua dengan nenek disana. Sore harinya, sat semua sibuk membereskan rumah, adik bungsuku datang menghampiriku. Dengan pelan ia menyampaikan pesan ibu. Katanya aku tak boleh lagi tinggal di rumah ini bila sudah menikah. Katanya, mulai sekarang aku bukan lagi tanggung jawab ibu karena sudah ada yang menanggungku.

“Iya aku tahu kok, bilang ke ibu secepatnya kami akan pindah,” jawabku berusaha bersikap biasa. Aku berusaha menahan gejolak hatiku yang tiba-tiba sesak, menyadari betapa bencinya ibu padaku, padahal sebelumnya akulah anak kesayangannya. Kehijrahanku telah membuat ibu berubah sangat drastis. Hanya dua hari kami berada di rumah ibu. Kemudian aku pun pindah ke rumah mertua. Disana aku disambut baik. Sangat baik malah. Maka mulailah aku berinteraksi dengan keluarga baruku, sambil belajar menyelami watak masing-masing dan senantiasa berusaha menjadi anggota keluarga yang baik.

Sementara ibu tetap dengan sikap dinginnya. Walaupun demikian aku tetap berusaha menyempatkan waktu mengunjunginya. Beliau lebih banyak diam, tapi pada suamiku sudah mau “membuka mulut”. Aku pun senantiasa berdoa agar Allah membuka hatinya dan menerimaku sehangat dulu lagi.

Sekitar dua tahun aku tinggal di rumah mertua. Suami yang seorang thalibul ‘ilmi mendapat tugas dakwah di daerah. Maka kami pun pindah menjalankan amanah yang baru pertama kalinya dibebankan pada suamiku.

Kini enam tahun telah berlalu, alhamdulillah sikap ibu telah membaik. Beliau kembali hangat karena kami telah membuktikan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan hijab syar’i-ku. Salah satu penyebab sikap keras ibu selama ini, beliau takut dikucilkan para tetangga karena anaknya berbeda dari yang lainnya.

Alhamdulillah aku berhasil membuktikan pada para tetangga bahwa meski berhijab, aku dan suamiku senantiasa menjaga silaturrahim dengan mereka bila kami datang mengunjungi ibu. Malah kini mereka terkadang meminta nasehat dan menanyakan hal-hal yang masih menjadi tanda tanya tentang dakwah salaf ini.

Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan pada kami. Berilah kami kekuatan dan kemampuan untuk terus mendakwahkan manhaj salaf ini agar mereka yang belum mengerti dapat paham dan mengamalkannya sebagai satu-satunya jalan untuk meraih ridha-Mu. Amin.

(Ummu Abdillah, Sulsel)
Dikutip dari:JilbabOnline.or.id

April 05, 2009

Sungguh…Alloh sangat mencintaiku

Saat itu usiaku 22 tahun ketika aku memutuskan untuk menapaki hidup dalam manhaj ahlu sunnah wal jama’ah. Alhamdulillah Alloh memberiku kemantapan dalam menempuh pilihanku ini. Dulu aku adalah seorang anak ‘gaul’, aku kuliah 1 tahun jurusan perhotelan. Semua trend yang ada pada waktu itu aku ikuti, malah aku terkadang yang menjadi trend center buat temen2ku. Semuanya berkiblat ke barat –naudzubillah- . tetapi untungnya aku masih menjaga norma-norma pergaulan, aku tidak terjebak dalam budaya miras, narkoba ataupun sex bebas.

Awal aku mulai mengenakan hijab, orang tuaku menolak keras keputusanku itu. Mereka berpikir bahwa itu semua semata-mata karena suruhan ikhwan yang ‘dekat’ denganku itu. Ikhwan itu hanya memberikan pengarahan untuk aku, memberi tahu tempat ta’lim yang baik dan selanjutnya keputusan adalah mutlak karena hidayah Alloh dan keputusanku. Kami memang melakukan kesalahan oleh sebab itu setelah aku berhijab, kami memutuskan untuk segera menikah. Keinginan kami itu ditentang oleh orang tua kami. Orang tuanya, terutama ibunya kurang setuju karena kakak perempuannya belum menikah. Sedangkan orang tuaku menentang karena tidak suka melihat penampilan ikhwan itu. Orang tuaku masih belum bisa menerima penampilan orang2 yang seperti kami karena takut dikira “teroris”. Tapi akhirnya karena ketekatan kami, kamipun di-ijinkan menikah.

Setelah menikah, kami memutuskan untuk hidup mandiri. Kamipun pindah dari rumah, dan menjadi anak kos-kosan. Kami berdua hidup bahagia, suamiku masih bekerja di tempat yang dulu dengan gaji yang lumayan besar. Aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku karena aku tidak tahan dengan ikhtilat yang ada didalamnya. Beberapa bulan kemudian, tamu ‘bulanan’ wanita itu datang. Ini berbeda dengan bulan2 sebelumnya. Hampir dua minggu ‘tamu’ itu tidak berhenti. Kami pergi ke dokter, sungguh kami terkejut ketika dokter mengatakan bahwa itu adalah gejala keguguran. Rasanya bercampur, senang karena mengetahui aku hamil dan sedih karena mau keguguran. Alhamdulillah bayiku masih dapat dipetahankan, tapi aku diharuskan beristirahat total (bedrest) tak boleh bekerja apapun. Masa hamilku itu sangat membuatku lemah, aku tidak bisa makan nasi dan aku selalu muntah-muntah. Aku jadi semakin lemas, semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri oleh suamiku. Suatu pagi, ada yang aneh dari suamiku. Biasanya dia pagi-pagi sudah pergi bekerja, tapi pagi itu tidak. Akhirnya dengan mata merah dia bilang padaku bahwa dia dipecat. Dia difitnah temannya dengan tuduhan mencuri. Sebuah konspirasi terselubung yang memang telah direncanakan oleh temanya itu.

Kami mencoba bertahan dengan uang tabungan kami sambil suamiku mencari pekerjaan. Empat bulan masa kehamilanku itu memang sangat menguras habis tenaga kami dan juga menguras tabungan kami. Aku sering pendarahan sehingga mau tak mau hanya suamiku yang harus bekerja. Tabungan kami hampir habis sedangkan suamiku belum mendapat pekerjaan. Orang tuaku akhirnya meminta kami pulang ke rumahku, kami pun akhirnya mau karena ku pikir ini demi kebaikanku juga. Di rumah ternyata berbeda jauh dengan perkiraanku sebelumnya, aku yang seharusnya tak boleh bekerja apapun malah harus membantu pekerjaan rumahku. Karena mereka pikir orang hamil harus banyak bergerak agar sehat.

Dengan tabungan yang masih ada aku dan suamiku mencoba berwirausaha sendiri, kami menjual jilbab dan pakaian2 muslimah lainya. Suamiku juga mendapatkan pekerjaan, dia bekerja di sebuah counter (walaupun gajinya tak sebesar gajinya yang dulu). Tapi karena kehabisan modal dan tenaga kami berhenti berjualan. Kandunganku mulai membesar, selama itu pula aku semakin sering mengalami pendarahan. Kata bidan yang merawatku itu tidak apa-apa hingga kandunganku menginjak usia 7 bulan. Saat itu hari raya Idul Fitri, ba’da subuh aku bersiap-siap akan pergi sholat Id. Aku merasakan kakiku basah sehingga aku mengambil kain untuk mengusapnya, ku lihat di kain itu banyak sekali darah. L A G I…aku pendarahan, aku berjalan mencari bantuan hingga darah ku bercecer disepanjang jalan yang ku lewati. Seisi rumah heboh, bingung, suami dan ayahku tidak ada mereka masih di masjid. Aku diantar tetanggaku periksa ke bidan lagi. Atas rekomendasi bidan kami di suruh USG ke rumah sakit. Hasil USG menyatakan bahwa aku mengalami kehamilan plasenta letak rendah, sehingga makin besar kandungan maka aku pun akan sering pendarahan.

Aku dan suamiku sudah tidak punya uang lagi dan terpaksa kami pinjam pada ibuku (wlaupun ibuku mengikhlaskannya). Hari raya yang seharusnya aku bisa berkumpul bersama keluargaku itupun berakhir dengan istirahat total ditempat tidur. Setelah bertahan +- 1 minggu, pendarahan terakhir aku langsung dirujuk ke rumah sakit untuk melahirkan. Karena posisi bayiku yang berada di atas plasenta maka aku harus melahirkan secara cecar. Jika aku memaksa melahirkan normal, maka bayiku akan meninggal. Dan akhirnya aku dengar tangisan kecil itu, subhanalloh…Alloh telah memberikan amanah pada kami seorang anak wanita dengan berat 2,5 kg -> Hashifah Alifatu Rohmah ( anak pertama yang semoga menjadi wanita yang bijaksana). aku menjadi seorang ibu.

Aku hanya sebentar melihat anakku karena anakku harus segera mendapat perawatan, dia lahir prematur dan berat badannya terlalu sedikit hingga membuatnya harus menggunakan bantuan oksigen dan ‘dilistrik’. Tabungan kami sudah habis, kami bingung mau bayar rumah sakit pake apa. Suamiku telah berusaha maximal dan menggadaikan motornya. Kelahiran bayiku itu tak serta merta membuatku terus tersenyum, masih banyak tekanan batin yang ku alami saat itu. Ibu mertuaku tidak mau menjenguk cucu pertamanya itu, dia tidak datang sama sekali. Orang tuaku selalu menanyakannya, kami bingung harus berkata apa pada orang tuaku. Sedang orangtuaku sendiri, mereka juga hanya sebentar-bentar menjenguk kami dengan alasan di rumah sibuk. Karena aku dan bayiku dipisah, aku tidak bisa mengandalkan suamiku saja untuk merawat kami. Aku belum bisa merwat bayiku karena aku belum bisa kemana-mana dengan kondisiku yang seperti itu. Sedangkan bayiku perlu perhatian khusus karena dia sering muntah-muntah dan harus ditunggu.

Alhamdulillah… adikku mau membantu, di rumah sakit (sebagai sebuah keluarga baru yang belum berpengalaman apapun) kami hanya ber empat (aku, suamiku, bayiku, dan adikku) adikku dan suamiku menjadi petugas jaga, mereka bergantian menjaga dedek dan aku. Keluarga di sebelah sampe heran melihat kami, sebuah keluarga muda yang benar-benar mandiri tidak mendapat pengarahan dari orang tua. Sedang mereka, ditunggui orang tua nya, bayi mereka juga sehat. Kadang aku dan adikku menangis berdua, menangis karena iri kepada keluarga yang bahagia tadi yang kedua orangtuanya selalu mensuport mereka itu.

Lima hari berlalu, ibuku meminta agar aku segera keluar dari rumah sakit dengan alasan takut biaya makin besar. Kamipun menyetujuinya karena kami memang sudah tak punya tabungan lagi walaupun dedek belum sembuh bener. Kami punya saudara perawat, jadi kami pikir sementara dedek bisa dirawat oleh saudara agar bisa cepet sembuh. Selain belum bisa menyerap makanan, kata dokter dedek juga terkena downsyndrome(keterbelakangan). Kami menerima dengan ikhlas semua itu. Setelah -2 minggu di rumah, tak ada perubahan dengan dedek, ia tetap belum bisa menerima asi semuanya ia muntahkan kembali. Akupun akirnya mengambil keputusan untuk membawa dedek kembali ke rumah sakit. Berat badan dedek susut menjadi 1,7 kg, kami dimarahi dokter karena tidak segera membawa dedek ke rumah sakit. Dedek kembali di opname di rumah sakit, di infus, dedek masih muntah walaupun Cuma dikit. Dan beberapa hari kemudian, kami membawanya pulang ke rumah.

Dedek keliatan gemuk, kami pikir dedek akhirnya sehat. Tetapi tidak, 2 hari di rumah muntah dedek makin banyak dan berwarna hijau. Kamipun bertindak cepat dengan kembali membawanya ke rumah sakit yang lebih baik, atas rujukan bidan. Di rumah sakit itu adik mendapatkan perawatan yang baik, dia sudah kelihatan gemuk dan sehat. Pihak rumah sakit merujuk kami untuk pindah ke rumah sakit yang lebih canggih peralatannya untuk merawat dedek. Tak mempeduliakan biaya, dan hutang yang dah membengkak kami pun membawa dedek untuk pindah rumah sakit lagi. Di rumah sakit itu aku hanya bersama samiku. Jahitanku yang belum sembuh benar ini, membuat aku sedikit sulit bergerak cepat. Tetapi demi dedek, aku rela berlari kesana kemari menebus obat, mencari transfusi darah, dan banyak lagi yang harus di suntikkan ke tubuh dedek. Terakhir dedek divonis terkena kelainan usus dan kebocoran jantung. Dedek harus di operasi dengan harapan hidup hanya +-5%. Kami ambil resiko itu. Kami telah ber ikhtiar sekuat tenaga, sampe2 suamiku tiba-tiba berkata bahwa dia sudah tidak kuat lagi. Aku kasihan melihat suamiku yang telah berjuang keras, tenaga dan pikiran kesana kemari untuk mencari dana pinjaman buat menebus obat dedek.

Kami sudah pasrah terhadap apapun yang akan terjadi pada dedek, tanpa berhenti ber ikhtiar. Dan di suatu pagi, suster memanggil “ ibu hashifah….”. Jantungku berdebar kencang, aku telah mendapatkan firasat. Dedek telah pergi…dedek telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tak kuasa mata ini menahan tangis, kami tidak menyesal dengan apa yang kami lakukan. Kami telah berusaha dan Alloh lah yang menentukan yang terbaik bagi kami.

Alloh benar-benar menyayangi kami. Aku bersyukur karena diberi kesempatan menjadi seorang ummi walaupun Cuma 30 hari, aku bersyukur memiliki suami seorang yang memiliki pemahaman agama yang alhamdulillah cukup baik. Mungkin Alloh memberikan kesempatan kami untuk belajar dulu agar kami benar-benar siap menjadi orang tua. Karena aku melahirkan caecar maka aku harus menunggu 2 tahun untuk hamil lagi.

Di ceritakan oleh ummu hashifah
Ditulis oleh : indonesia_manusia